Wednesday, December 11, 2013

kesehatan prima

 Kesehatan dan kesakitan dapat ditafsirkan secara sangat berbeda oleh dua orang yang berbeda.  Pengetahuan masyarakat tentang sakit, dapat mempengaruhi dalam pembentukan konsep sehat seseorang. Pengetahuan yang terbentuk pada dasarnya merupakan warisan budaya, yang diturunkan dari generasi ke generasi. Hal ini juga akan mempengaruhi perilaku mereka selanjutnya serta jenis perawatan yang dicari.

Kesehatan adalah salah satu konsep yang telah sering digunakan namun sukar untuk dijelaskan artinya. Meskipun demikian, kebanyakan sumber ilmiah setuju bahwa definisi kesehatan apapun harus mengandung paling tidak komponen biomedis, personal dan sosiokultural (Smet, 1994). Bagi masyarakat umum, kesehatan dapat hanya berarti “tidak sakit”. Lalu pertanyaannya “Apa sebenarnya sakit ?”
Kesakitan (Illness) sangat berkaitan dengan penyakit (Disease), tetapi ke dua istilah tersebut menunjukkan suatu perbedaan yang mendasar dan konsepsional tentang periode sakit. Salan (1988) menggambarkan kesakitan sebagai reaksi personal, interpersonal serta cultural terhadap penyakit atau perasaan kurang nyaman, sedangkan penyakit adalah gangguan fungsi atau adaptasi dari proses-proses biologis dan psikofisiologis pada seseorang (smet, 1994). 
Persepsi orang tentang sehat dan merasa sehat, sangat bervariasi. Persepsi itu dibentuk oleh pengalaman, pengetahuan, nilai dan harapan-harapan. Juga pandangan tentang apa yang akan dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, dan kebugaran yang mereka perlukan untuk menjalankan peran mereka (Ewles dan Simnett, 1994).
Dalam UU Kesehatan No. 23 tahun 1992, kesehatan diartikan sebagai keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan social yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara social dan ekonomi. Kesehatan tidak hanya terbebas dari gangguan secara fisik, mental dan social, tetapi kesehatan dipandang sebagai alat atau sarana untuk hidup secara produktif. Sehingga upaya kesehatan yang dilakukan, diarahkan pada upaya yang dapat membawa masyarakat memiliki kesehatan yang cukup agar bisa hidup produktif.
Pandangan sehat-produktif, telah banyak diterima dan dianut oleh beberapa Negara maju. Optimasi pandangan sehat-produktif dapat dilakukan melalui pemberian nilai dalam rentang sehat sakit. Keadaan ini sering disebut sebagai kesehatan prima. Konsep dasar kesehatan prima, antar lain mencakup tanggung jawab individu, pencapaian tujuan, dinamis, pertumbuhan proses, dan pengambilan keputusan sehari-hari daalam area nutrisi, pengelolaan stress, olah raga fisik, pelaksanaan upaya pencegahan, kesehatan emosi, dan aspek kesehatan lain dalam individu.
Menurut Travis dan Ryan (1988) seperti dikutip oleh Sumijatun, dkk (2006), mengatakan bahwa sehat prima adalah kemampuan individu untuk memilih jalan hidupnya, mampu berproses, penggunaan  enegi yang efisien, terjadinya integrasi yang baik antara tubuh, akal, dan perasaan dan dapat menerima serta mencintai apa yang dipunyainya. Kesehatan prima adalah suatu keadaan yang sejahtera, yang berarti adanya sikap dan perilaku yang mencerminkan kualitas hidup yang tinggi serta adanya tingkat potensi yang maksimal dari individu (Anspauhg, Hamrick & Rosata, 1991 : Kozier et al, 1997).




Optimasi kesehatan dan kesejahteraan prima manusia harus memenuhi lima dimensi  yaitu :
a.       Dimensi fisik
Secara umum manusia dalam dimensi ini mampu mempraktekkan gaya hidup yang positif. Kemampuan untuk menyelesaikan tugasnya sehari-hari, pencapaian kebugaran (seperti kardiovaskuler, paru-paru dan gastrointestinal), menjaga nutris tetap adekuat dan ketepatan proporsi tubuh dari timbunan lemak, bebas dari penggunaan obat-obatan, alcohol dan rokok.
b.      Dimensi Sosial
Kemampuan berinteraksi secar baik dengan sesama dan lingkungannya, dapat menjaga dan mengembangkan keakraban individu dan dapat menghargai serta toleransi pada setiap pendapat dan kepercayaan yang berbeda.
c.       Dimensi Emosional
Kemampuan untuk mengelola stress dan mengekpresikan emosinya yang dapat diterima oleh pihak lain. Kesehatan emosi mencakup kemampuan untuk bertanggung jawab, menerima dan menyampaikan perasaannya serta dapat menerima keterbatasan orang lain.
d.      Dimensi Intelektual
Kemampuan untuk belajar dan menggunakan informasi secara efektif antar personal, keluarga dan pengembangan karier. Kesehatan intelektual meliputi usaha untuk secara terus menerus tumbuh dan belajar guna beradaptasi  efektif dengan perubahan baru.
e.       Dimensi spiritual
Meliputi percaya adanya beberapa kekuatan (seperti alam, ilmu pengetahuan, Agama dan bentuk kekuatan lain) yang diperlukan manusia dalam mengisi kehidupannya. Setiap individu memiliki nilai, moral dan etika yang dianutnya.

Setiap komponen  dalam dimensi di atas, dapat terjadi tumpang tindih, factor dalam komponen satu secara langsung mempengaruhi factor lain, contoh : seseorang yang belajar mengontrol tingkat stress dari fisiknya diharapkan juga dapat menjaga stamina emosinya yang digunakan dalam menanggulangi krisis. Kesehatan prima mencakup semua aspek kerja dalam model. Identifikasi kesehatan dari berbagai dimensi merupakan hal penting dalam meningkatkan kesadaran kompleksitas konsep seha